cara hemat tinggal di australia

Bedanya Hidup di Australia vs Indonesia (Serta Tips Hemat Hidup di Australia)

Ternyata benar kata orang-orang, hidup di negara seberang itu berat juga ya. Selain jauh dari keluarga (yang biasanya bisa saling membantu), penghasilanku juga sekarang pas-pasan untuk tinggal di sini (duh curcol). Tapi aku senang!!! Karena sebenarnya aku emang ga suka keramaian (dengan kata lain, hidup jauh dari orang-orang yang dikenal lumayan bikin “tenang” dan “nyaman” karena ga ada yang kepo dan komentar sana sini muahahaha).

Btw, sekarang aku dan Fred tinggal di Hobart, Tasmania. Kok bisa? Karena kami daftar Work & Holiday Visa, jadi kami bisa tinggal selama 1 tahun sambil kerja part-time.

Untuk info tentang visa Work & Holiday, silahkan baca artikel aku tentang itu ya. Aku juga pernah tulis tentang FAQ Work & Holiday Visa. Silahkan dibaca bagi yang tertarik! 🙂

Beberapa waktu yang lalu, aku sempat share di IG Story (@sharonlohh) tentang kalo mau nyuci baju di sini (pas winter), aku harus liat app Weather dulu. Dan aku baru sadar ternyata aplikasi ramalan cuaca itu berguna! Kalo bisa jemur baju pas ada matahari, kenapa harus pake dryer kan? Hemat energi. Selain itu, kalo aku mau sepedaan juga liat app ramalan cuaca dulu. Terus kalo ada matahari, duh senangnya bukan main. Matahari yang selama ini aku take for granted selama di Indonesia, ternyata terasa berharga banget pas hidup di Tasmania saat musim dingin.

Tassie is so beautiful!

Nah, sekarang aku mau ceritain nih tentang kehidupan di sini: apa bedanya, apa enak ga enaknya antara hidup di Australia vs Indonesia. Ga bermaksud jelek-jelekin / bagus-bagusin negara tertentu, ya! Cuma mau share aja tentang kehidupan di sini. Siapa tau ada yang tertarik mau ke Tasmania juga? 😉 Aku juga mau share tentang cara-cara hemat yang aku lakukan selama hidup di Australia.

Btw, this is going to be a very long post, but if you’re interested, keep on reading!

1 – Tempat Tinggal dan Isinya

Pengeluaran terbesar kami setiap bulannya itu habis untuk tempat tinggal. Beruntung, kami bisa tinggal di rumah yang asik, dengan housemate yang super cocok dengan kami – bahkan bisa dibilang, kami punya banyak kemiripan. Salah satunya ga suka TV, jadi di rumah kami ga ada TV dan ga ada yang bisa nyalain TV doang tapi ga ditonton. Hidup tentram~ dan selera dekorasi kami juga entah kenapa sama, kami suka yang bernuansa putih – coklat, minimalis tapi warm and homy, dan suka indoor plant juga!

Our lovely home in Tassie
Liat jendela yang gede itu? Itu tempat kami cuci piring~

The housemates
Hotpot night!

Untuk tempat tinggal, aku dan Fred sewa 1 kamar di rumah yang dihuni oleh 5 orang, termasuk aku dan Fred. Kalau naik bus, kira-kira 40-50 menit ke kota, tapi kalau menyetir mobil sendiri, 20 menit juga sampai. Dan…. letaknya di atas bukit, jadi pemandangannya cantik banget, bisa lihat laut juga! Mana jendelanya gede banget lagi mengelilingi ruang tamu dan dapur. Jadi seger banget rasanya ga ketutup dan sumpek gitu. Aku senang kalau bangun pagi dan matahari baru mulai terbit. Sambil ngopi, sambil melihat matahari terbit tuh rasanya gimana gitu ya. Bikin aku bersyukur banget bisa mencoba kehidupan baru disini.

Meja kerja Fred

Oh ya, harga sewa kamar aku dan Fred $210 per minggu. Di Australia, hitungannya per minggu, bukan per bulan. Kalo di Indonesia, itu udah harga kos satu bulan kan ya. Hiks.

Harga tempat tinggal sih sama lah dengan di Indonesia, makin dekat dengan pusat kota, makin mahal. Walaupun tempatku bisa dibilang jauh dari pusat kota, tapi banyak kok supermarket besar yang dekat dengan rumah. Di sini, walaupun rumahnya terpencil tetep aja gampang cari supermarket besar.

Vacuum nya tinggal colok ke dinding!

Oh ya, salah satu yang aku suka dari rumah ini, vacuum cleaner-nya ga keliatan! Jadi kita tinggal colok selang vacuum ke dinding, dan vacuum-nya akan otomatis nyala. Si mesinnya itu tersembunyi di gudang bawah. Keliatan rapi banget kan. Ada shed kecil juga tempat kami menyimpan sepeda.

Terus yang aku suka lagi, semua keran di rumah ada air panasnya. Jadi emang udah ada pemanas air central. Bisa cuci piring pake air hangat deh kalo minyakan, ga perlu rebus2 air lagi.

Cara hemat tempat tinggal:

  • Tinggal di suburb (bukan di tengah kota). Biasanya, harga sewa lebih murah dan rumahnya pun lebih luas karena lahan di kota lebih kecil-kecil.
  • Tinggal di kamar couple. Biasanya, harga per orang lebih murah dibanding harga kamar single.
  • Cari teman untuk sewa 1 rumah, pasti jauh lebih murah dibanding sewa kamar di rumah orang.

2 – Food and Groceries

Pengeluaran terbesar kedua kami setiap bulan itu untuk makanan. Tapi, ini juga bagian favoritku! Selalu senang setiap kali ke supermarket. Rata-rata, kami berdua habis $500 sebulan untuk makan. Not bad sih sebenarnya! Karena emang jarang makan di luar sih ya, jarang banget malah. Mungkin sebulan cuma 1-2 kali, plus ngopi 2-3 kali. Sisanya masak sendiri.

Sekali2 makan di luar
Sekali2 makan di luar

Kalo kita beli bahan masakan di sini, harganya ga beda jauh kok dengan di Indonesia menurutku. Tapi, kalo makan di luar emang mahal banget karena biaya untuk bayar karyawannya mahal. Gimana ga mahal, minimum wage di Australia itu tinggi banget. Di Tasmania, minimum wage-nya $18.29/jam. Jadi, walaupun kerjaan dibayar dengan minimum wage, kamu masih bisa banget hidup super layak dan nyaman di sini. (Contohnya aku! Walaupun ga nabung sih sekarang jadinya, hihi).

Oh ya, lagi ngomongin makanan ya. Satu hal sih yang bikin aku tercengang di sini: harga daging murah dan harga sayuran mahal! Terus, harga sayur dan buah juga naik turun tergantung musim. Jadi kalo mau hemat, coba masak dengan bahan makanan yang lagi in season. Pantesan aja ya resep-resep luar negeri itu ada resep spring / summer / autumn / winter. Tergantung bahan yang lagi musim juga ternyata. Baru ngerti kenapa~

Gyoza~
Mie nya aku bikin sendiri dari tepung loh!
Kadang makanannya ga sehat, goreng2 semua hihi
Pasta~
Cheesecake

Susu juga lumayan murah. Fresh milk loh, bukan UHT. Di tempatku, ada Fresh Tasmanian Milk yang jual susu per liternya $1, telur sekitar $3 – $4 per lusin, ayam sekitar $3.50 – $10 per kilo, tergantung potongan apa. Misalnya drumstick sama fillet dada ayam, itu harganya beda. Yang mahal di sini itu bumbu-bumbu seperti bawang putih $25/kg, bawang merah juga mahal, jahe, kunyit, dll.

Hmm, semua yang di Indonesia murah banget, di sini mahal! Huhuhu. Begitu juga sebaliknya. Tapi gapapa, aku coba masak dengan semua bahan yang murah & bisa diakses dengan gampang 😉 Kalian tertarik ga kalo aku share resep-resep juga di blog ini? Yang pasti resep-resep yang gampang karena aku ga bisa bikin yang susah. Let me know, ya!

Cara hemat pengeluaran food & grocery shopping:

  • Sebisa mungkin masak sendiri
  • Belanja bahan masakan berdasarkan bahan yang lagi in-season / lagi diskon, bukan berdasarkan mau masak apa. Biasanya bahan yang in-season itu selain murah, juga segar. Nah, setelah belanja, baru deh mikir mau dimasak jadi apa. Selain lebih hemat, kita juga jadi bisa eksperimen masakan baru yang belum pernah kita masak sebelumnya! Seru deh.
  • Bikin kartu member Coles / Woolworth. Ini nama 2 supermarket besar di sini. Lalu setiap kali belanja, scan setiap kali belanja. Nanti bisa terkumpul point yang bisa ditukar dengan diskon ataupun gift card.
  • Cek online di website sebelum belanja: liat apa yang diskon. Dan, dua supermarket ini sering banget diskon, setiap hari selalu ada yang diskon deh perasaan, dan selalu beda- beda. Terus diskon besarnya itu setiap hari Rabu. Jadi hari Selasa bisa ngintip-ngintip tuh di website, apa aja yang diskon. Jadi bisa rencanain mau beli apa.
  • Beli sayuran di sore / malam hari: banyak yang diskon!
  • Beli gift card Coles / Woolworth di CashReward. Bisa diskon 5%, jadi anggap aja setiap kali belanja di supermarket (pake gift card), kita selalu dapat tambahan diskon 5%. Jadi bulan lalu aku beli gift card Woolworth yang isinya $500 di CashReward, dan aku bayar $500, terus dapet cashback di CashReward sebanyak $25. Lumayan lah ya. Cobain deh kalo kalian tinggal disini.

3 – Sampah

Sampah – penting banget nih! Dan entah kenapa, menurutku menarik. Jadi, di setiap rumah ada tong sampah besar dengan tutup hijau (general waste) dan tutup kuning (recycle).

Ini tong sampah di dalam rumah. Yang putih untuk general waste, yang keranjang imut itu untuk recycle

Di tempat tinggalku, truk sampah akan datang dua minggu sekali setiap hari Selasa untuk angkut sampah dari masing-masing rumah. Jadi, setiap Senin malam kami pindahin tuh tong sampah ke pinggir jalan supaya bisa diangkut. Mereka angkutnya juga ga pake orang yang harus turun dari truk, lempar ke truk, balikin lagi, dll. Ada alatnya gitu di truknya, jadi cuma butuh orang untuk nyetir truk deh. Pertama kali liat aku sampe cengok, amazed banget hahaha. Udik yah?

Dan, truk untuk tong sampah hijau dan kuning itu beda loh. Aku baca-baca, di Australia sudah cukup baik untuk recycle sampah. Tapi, tetep aja orang di sini masih merasa banyak sampah plastik yang mereka ga bisa recycle. Mereka juga protes dengan Coles / Woolworth karena banyak sayuran / buah / daging yang dibungkus plastik padahal nggak perlu.

Sampah soft plasticku minggu lalu. Aku kumpulin ini selama 2 minggu.
Kalo beli Kale di supermarket, ada plastiknya. Hiks! Mulai minggu depan aku beli di weekend market aja

Tapi kesadaran orang-orang di sini terhadap sampah udah bagus banget menurutku. Setiap aku jajan-jajan gitu / takeaway, kemasannya belum pernah nemu yang plastik, apalagi styrofoam. Selalu aku nemu kemasan BioPak, dan itu biodegradable. Salut deh!

What can I do as a normal person?

Kurangi Penggunaan Plastik

Sebisa mungkin belanja yang ga ada packaging-nya. Dan pastinya, bawa tas belanja sendiri (aku punya 3). Pas tinggal di Jambi juga aku selalu pake tas belanja sendiri sih, jadi udah cukup terbiasa. Ini super gampang menurut aku, jadi ga ada alasan untuk ga bawa tas belanja sendiri dan kurangi penggunaan kantong plastik, kecuali kalau kamu ignorant. Oh ya tau ga bedanya apa belanja pake shopping bag selama disini vs selama aku di Jambi? Disini, karena aku seringnya self-checkout (scan sendiri, timbang sendiri di kasir), aku bisa dengan leluasa pake shopping bag dan walaupun di kasir yang ada petugasnya pun, mereka malah senang kalau kita pake shopping bag.

Selama di Jambi? Setiap kali aku pake shopping bag, selalu diliatin dengan aneh, terus malah kadang diplastikin lagi tuh belanjaanku, baru dimasukin ke shopping bag. Katanya : “Nggak apa apa, mbak. Pake aja plastiknya”. Dan aku pun langsung bongkar barang2 itu di kasir, kembaliin lagi plastiknya. Lumayan susah sih, karena orang2nya belum sadar. Tapi asalkan kamu kekeuh, bisa kok!!

Oh ya, di sini aku juga bawa container ke mana-mana, termasuk coffee cup. Aku taruh di dalam tas belanja. Mana tau mau beli sesuatu kan di jalan, jadi bisa pake container itu daripada pake bungkusan takeaway, walaupun bungkusannya biodegradable.

Bawaanku kalo keluar rumah. IG Story @sharonlohh

Kurangi Penggunaan Tissue

Nah, salah satu ga enaknya tinggal di Australia nih menurutku, bidet spray itu ga umum. Jadi, mereka cuma pake tissue aja, termasuk untuk bersih-bersih setelah buang air besar. Kita kan ga terbiasa yahhh, ga nyaman banget rasanya. Parahnya, boros banget tissue pokoknya. Jadi, Fred baru saja pasang bidet spray di toilet! Ga perlu pake banyak tissue yang banyak banget deh sekarang yay!

Bercocok tanam!

Aku juga lagi coba-coba regrow tanaman, nih! Misalnya ada daun bawang, ujungnya aku tanam lagi. Sekarang udah ada koleksi 10 tanaman daun bawang di rumah! Yay! Aku juga coba regrow wortel, tapi belum tau berhasil ga. Selada yang aku tanam…. mati. Mungkin karena ga cocok musimnya ya, terus aku juga tanam biji cabe tapi ga tumbuh-tumbuh. 😅

Minggu lalu aku beli parsley & coriander di Farm Gate Market (itu Sunday Market di Hobart city)

Bulan depan, aku pingin bisa pake menstrual cup jadi ga ada banyak sampah dari pad! Wish me luck! Masih cari-cari sih merk apa yang dijual di sini. Tapi, so far aku tertarik dengan OrganiCup dan RubyCup. Karena keduanya lembut ga terlalu firm, jadi sepertinya lebih nyaman (aku nonton video comparison gitu di YouTube). Atau… kalian punya rekomendasi tentang menstrual cup? Let me know!!!

4 – Suasana Kota & Orang

Aku suka banget dengan suasana di sini. Jarangggg banget denger suara klakson, rasanya tenang gitu loh. Beda banget dengan rumahku di Jambi, kalo berdiri di pintu depan, udah deh klakson di mana-mana.

Udaranya juga bersih di sini, rumah ga debuan loh walaupun cuma di-vacuum & steam mop seminggu sekali. Bahkan, jendela, meja, dan lainnya yang jarang banget dilap, tetap ga kotor! Airnya juga bersih (tap water is safe for drinking), jadi berasa cuci muka dan mandi pake air minum. Mewah yah sis! Haha #katrok.

Terus aku suka di Tasmania ini karena slow life banget. Ga buru-buru, ga rame seperti kota-kota besar. Kalo hari minggu kalian ke pusat kota, beuh sepi banget hampir semua toko tutup.

Si tukang beli buku

Aku juga suka di sini orangnya ramah, ga jutek sama sekali, dan menghargai waktu banget. Sebagai orang yang kerja part-time aja, rasanya waktuku super dihargai. Jadi, ga bakal ngeluh-ngeluh deh kalo kerja. Seperti yang udah aku jelasin masalah wage di Tasmania, hitungan kerjanya per jam. Minimum wage di Tasmania itu $18.29 per jam. Jadi, walaupun aku cuma kerja part time, aku masih bisa bayar untuk tempat tinggal dan makan yang layak. Walaupun ga nabung sih! Karena aku cuma kerja 12-14 jam per minggu. Kecuali kalo aku punya second job, nah bisa deh nabung. (Tapi berhubung aku pemalas… ya sudahlah hehehe).

Basically, my life motto. LOL

Jalan kaki sendirian di sini juga aman (dan tentram). Sejauh ini aku ga pernah ngalamain yang namanya catcalling. Pas kuliah di Bandung dulu? Beuh…. Malesin banget, jalan bentar diteriakin “neng.. neng…”. Jalan bentar, ditanya mau ke mana. Huft.

5 – Rekreasi / Hiburan

Hiburan? Banyak banget taman-taman gratis di sini! Dan asiknya lagi, beberapa taman itu ada BBQ Pit-nya, jadi kita bisa barbekuan deh, gratis. Tinggal bawa bahan-bahannya aja. Asal jangan lupa dibersihkan kembali ya setelah pakai. Jadi, orang selanjutnya bisa langsung pake juga.

Terus, banyak juga tempat-tempat lain yang cakep di Tasmania, selain taman. Banyak national park, bisa main ke pantai, bisa main ke gunung, main ke pusat kota pun menarik. Aku betah banget pokoknya disini.

Ini beberapa tempat yang sudah aku kunjungi.

Mt. Field, lucky us karena lagi bersalju!

Mt. Wellington
Salamanca Market
Goat’s Bluff
Port Arthur
Farm Gate Market
Sempet ikutan serunya festival Dark Mofo juga!

Dan masih banyak banget yang belum, maklum aku dan Fred emang kalo jalan2 super lambat dan santai :p

Selain itu, di sini juga suka ada Weekend Market, festival, dll. Ada festival pas winter, pas summer, segala musim deh. Kayaknya begitu tentramnya hidup di sini, orang-orangnya jadi kreatif bisa mikirin yang macem-macem yah. Love it!

Oh ya, kalo kalian mau datang ke Tasmania, cobain juga deh roadtrip pake campervan. Seru! Sensasinya beda dengan roadtrip tapi tidur di hotel.

Baca juga : Cara Roadtrip dengan Campervan di Australia

Sarapan di gunung

Tasmania itu kecil sih, jadi mungkin setelah 1-2 tahun, semuanya udah bisa dijelajah. Mungkin habis itu aku bisa jalan-jalan ke tempat-tempat menarik dan dekat lainnya? New Zealand atau Fiji, maybe? Oh, it’s on top of my list! Kata housemate-ku (yang pernah tinggal di New Zealand pake Work & Holiday), New Zealand itu cantik banget, jauh-jauh lebih cantik daripada Tasmania. Aku ga kebayang!!! Tassie aja udah cakep banget menurutku. Dan yah, mumpung sekarang aku lumayan dekat dengan New Zealand, kalau ada kesempatan, aku pasti kesana! *finger crossed*

Ngomongin tentang rencana jalan-jalanku ke New Zealand, kalian yang di Indonesia kepingin juga ga sih ke negara ini? Aku tau penerbangannya lama, jadi kalau kalian tipikal orang yang utamain kenyamanan, mungkin kalian bisa coba pilih penerbangan First Class atau Business Class. Ga perlu ribet buka satu per satu website maskapai yang mau kalian pilih buat cari penerbangan Non-Ekonomi, soalnya di Traveloka sekarang sudah tersedia lengkap!

Keuntungannya apa? Kalo pesen First Class atau Business Class di aplikasi Traveloka maupun website resminya, kalian bisa pesen jauh-jauh hari pas harganya lagi murah karena bisa reschedule tanpa biaya alias 0% (wow!). Jadi, pantengin terus aja harganya. Kalo tiba-tiba kalian ga bisa di tanggal yang udah dipesen, tinggal ubah aja.

Aku pribadi belum pernah nih cobain Business Class, apalagi First Class! Tapi di jaman Instagram ini kan ya, kadang kita bisa ngeliat IG Story orang2 yang lagi traveling di Business Class / First Class. Keliatan nyaman banget!

Tempat check-in beda dari yang penerbangan Non-Economy, nunggu boardingnya di priority lounge, terus makanannya banyak, bisa selonjoran, bahkan ada yang ngasih slipper kyk sendal hotel segala, terus kalo udah landing, bisa turun duluan, dll. Dan personal space-nya gede. Impian aku banget lah pingin cobain.

Terus kata adikku yang pramugari, kalo di Economy itu kan kita ada jadwal makannya nih. Semua makan barengan. Bedanya di Business Class / First Class, kita bebas mau minta makanan jam berapa aja.

Aku pingin sih ajak mami dan papiku liburan ke Tasmania atau New Zealand, mumpung aku disini. Mungkin tahun depan? Atau 2 tahun lagi. Dan aku pingin nabung untuk beli tiket Business Class untuk mereka. Mereka belum terbiasa naik pesawat long haul soalnya, terutama papi. Aku dan Fred di Economy aja gapapa dehhh! Hahaha.

6 – Serba Mandiri

Ini nih yang aku salut dengan orang-orang yang tinggal di sini (atau di negara maju lainnya).

Kalo di Indonesia, karena banyak teman dan keluarga jadi banyak aja yang bisa bantuin saat butuh sesuatu. Selain itu, kalo kita perlu jasa laundry, bersih-bersih rumah, pijit, order makanan online, dll itu murah kan kalo di Indonesia. Ada yang premium, tapi yang terjangkau banyak banget. Bahkan, semua tinggal click juga beres.

Nah, kalo di Australia karena minimum wage nya tinggi (konon katanya salah satu yang tertinggi di dunia, mungkin karena itu orang-orangnya sejahtera?), jadi kalo mau pake jasa-jasa seperti itu, udah pasti mahal! Untuk kondisi keuangan kami, kami belum mampu deh intinya. Jadi, semua dikerjain sendiri seperti masak, nyuci piring, nyuci baju, beres-beres rumah, ngurusin mobil, dll.

Tapi, ga berasa berat loh! Mungkin karena dibantu dengan berbagai alat elektronik juga. Misalnya, cuci baju pake mesin cuci (di Indo juga umum), bersihin rumah pake vacuum & steam mop, ga perlu peras-peras pake ember berisi air lagi, selain itu rumah juga ga berdebu jadi vacuum & mop seminggu sekali itu cukup. Bahkan kalo udah lewat seminggu, rasanya juga belum kotor. Walaupun kerjain sendiri, kerjaan rumah ga terasa berat! 🙂

7 – Listrik

Listrik di sini mahal, dibanding di Indonesia. Jadi untuk hemat listrik, aku ngelakuin hal-hal berikut:

Cuci baju pake air dingin. Iya, di mesin cucinya ada opsi air dingin atau hangat. Biasanya orang-orang suka pake air hangat karena lebih bersih katanya. Tapi aku nemu detergent yang katanya works great in cold water. So, cold water for me then!

Dry clothes naturally rather than in the dryer where possible. Aku juga berusaha cuci baju saat ada matahari (nah, ini perlunya lihat aplikasi ramalan cuaca). Jadi aku bisa jemur baju pake matahari, ga perlu pake dryer. Tapi, kemarinan aku sempet ngobrol dengan kak Tyas (https://www.instagram.com/sustaination/). Dia tinggal di Belanda, dan katanya dia jemur baju juga saat winter walaupun ga ada matahari. Katanya karena udaranya kering, jadi bisa kering juga pakaiannya. Aku harus coba!

Selalu matiin lampu di ruangan yang ga ada orangnya. Simple kan!

Use an electric kettle to boil water & microwave to reheat food rather than the stove. Dulu pas tinggal di Indo, aku kira pake electric kettle itu boros. Ternyata lebih hemat karena alat-alat elektronik itu lebih efisien. Walaupun daya yang dipakai tinggi (dan ini masalahnya di Indo ga cocok karena daya masing-masing rumah kecil banget, jadi kalo pake kebanyakan, bisa dengan gampangnya sekring turun).

Sama halnya dengan microwave, kalo mau panasin makanan, lebih hemat kalo pake microwave (paling 1-2 menit kan), dibanding nyalain kompor. Oh ya kompor di rumahku ini kompor listrik btw, ga ada gas supply di area rumahku.

Dress appropriately for the seasons, rather than immediately turning to air conditioners or heaters. Kalo kedinginan, wear more layer sebelum nyalain heater. Dan, thermostat-nya di set jangan ekstrim amat dingin / panasnya.

Banyak sih sebenarnya hal-hal kecil yang bisa kita lakukan untuk hemat energi, misalnya jangan nyalain TV kalo ga ditonton, take shorter showers, ganti lampu dengan LED hemat energi, dll. Dan aku rasa tips ini juga sangat relevan kalo kita tinggal di Indonesia! 🙂

Oh ya, aku juga baru tau kalo electric blanket (75-100 Watt) itu lebih hemat loh daripada heater (sekitar 1.000 Watt untuk yang ukuran kecil). Dan, biasanya dimatikan saat mau tidur. Jadi pingin beli.

8 – Transportasi

Transportasi umum di negara maju emang nyaman ya. Jadi ga takut untuk jalan-jalan sendiri. Di Tasmania sendiri, cuma ada bus ga ada kereta, apalagi ojek online! *ngarep*

Terus, biasanya orang-orang pada beli mobil karena mobil bekas di Australia itu harganya murah. Beda jauh dengan harga di Indonesia! Mobil yang Fred beli (Honda Civic 2011), harganya $2,999. And it is in great condition. Tapi kalo mau beli mobil, siap-siap ada biaya tambahan.

Ada biaya rego (a motor-vehicle registration per 3 / 6 / 12 bulan), ada biaya parkir, bensin (biasanya kami cuma $50/bulan, karena jarak di Hobart deket2 dan kami jarang keluar juga), insurance (minimal ambil yang third party deh), dan lainnya. Aku dan Fred jarang sih pake mobil, karena emang jarang keluar rumah haha! Kadang kami selingin dengan sepeda juga biar hemat. Selain itu, naik sepeda di Hobart asik banget, soalnya ada jalur sepeda yang terpisah dengan jalur mobil. Namanya InterCity Cycleway.

View this post on Instagram

Sebelum pindah ke Hobart, sungguh aku dan Fred ga tau apa-apa tentang kota ini. Bahkan kami ga tau kalo Tasmania itu pulau kecil yang terpisah dari mainland Australia. 🤣 Duh katrok! Haha. Gini nih kebiasaan kalo mau traveling, suka “yah liat nanti lah gampang”, sampe beda pulau pun baru tau bbrp hari sblm berangkat. Itu pun karena diksh tau temen! – Jadi memang pas datang kesini, kami ga punya bayangan apa-apa kecuali, Tasmania ini cantik alamnya. Dah, itu doang yang kami tau. Tapi ternyata ga cuma alamnya yang cantik, banyak banget hal2 menarik disini! – Dan semuanya udah aku tulis di www.sharontravelogue.com. Monggo mampir ke blog yaa 😆 Link on my bio – #WHV #WHVAustralia #WorkAndHolidayVisa #HoneymoonJilid4 #sharontravelogueAustralia #Hobart

A post shared by Sharon Loh (@sharonlohh) on

Satu lagi, biaya untuk mobil! Kalo mau masuk ke National Park di Tasmania, kita harus punya National Park Pass. Bisa beli pass per mobil (termasuk untuk penumpang 7 orang max).

Tips Hemat Isi Bensin

  • Kalo mau isi bensin, coba deh cek dulu website https://motormouth.com.au/. Di sana, kita bisa liat pom bensin mana aja yang harganya lebih murah. Lumayan, kan!

9 – Make Little Extra Money

One of the perks of living in Australia is that you can take part time job / casual job with decent salary, karena minimum wage yang tinggi itu. Lowongan casual job di Tasmania tentunya lebih sedikit dibanding di kota besar. Tapi, bukan berarti ga mungkin untuk dapat kerjaan.

Sekarang, kerjaanku adalah admin sekaligus fotographer untuk Instagram @sushforsushi. And I love my job! Tapi, mungkin aku juga mau cari casual job lain di dapur karena aku suka dengan dunia masak-masak.

Behind the scene 😛

Gimana cara cari kerja di Australia? Coba cek postingan aku : FAQ Work and Holiday Visa.

Terus, kalian juga bisa ikut berpartisipasi di paid online survey. Coba searching aja ada banyak. Biasanya, mereka akan kasih poin gitu tiap kali kita selesai isi survey, dan nanti poin yang terkumpul bisa dicairin ke Paypal maupun ditukar dengan gift card untuk belanja di supermarket. Aku pernah iseng-iseng coba, dan akhirnya dapet giftcard $5 dua kali, lumayan!

Kalian juga bisa jualan barang-barang bekas (maupun baru) di Facebook Marketplace. Aku pingin coba jualan tas rotan Bali nih, lagi proses pengiriman~ Semoga aja laku.

* * *

Banyak banget hal baru yang aku alami di sini! Jadi, kalo kalian lagi mikir-mikir mau coba tinggal di luar negeri, tapi takut lah, ragu lah, apa lah — udah, jangan ragu. Coba aja dulu, kalo ga suka atau ga betah, tinggal pulang. Gampang toh? 😉

You won’t know what you miss if you don’t even try. And giving it a shot won’t hurt anyone.

Semoga kalian suka dengan ceritaku! Kapan-kapan, aku cerita lagi yah tentang kehidupan di sini. Have a good day, all!

Baca juga : Things I Love About Hobart

sharonloh

Iklan

44 pemikiran pada “Bedanya Hidup di Australia vs Indonesia (Serta Tips Hemat Hidup di Australia)

  1. Mau dong kak sharon share resep resep makanan yg biasa kakak buat selama di tasmania! Btw ditunggu cerita lainnya selama kakak di Australia!❤

  2. Aku baru tahu tentang si tempat sampah. Dulu sempat bingung sampah aku masuk ke mana, akhirnya aku masukkin ke yang kuning just because of the color of the lid kan. Wkwk. Tapi benar sih waktu itu sampah recycled, fiuh…

    Eh, resep mudah mau dong, Shar. Ku lagi suka masak ni, aneh bgt. Wkwk.

    1. Aku jg pernah salah! Hahaha. Yg recylce tak masukin ke ijo. Pas udah cemplung, baru ngeh tong sampahnya bau…… Sejak itu lgs inget recycle itu kuning 🤣

      Ih baiklah!! ❤️ asik yahh masak2, walau kadang hasilnya…. errrr

  3. Aku juga lebih suka tinggal di Aussie, hehehehe…

    Sama yang punya rumah boleh ya pasang bidet spray, di rumahku gak boleh nih, jadi ttp nggak nyaman walaupun harusnya sudah terbiasa.

    Belanja mingguan itu kegiatan favorit aku, walaupun belanjanya di pasarnya orang Aussie, tapi bikin betah. Trus bener banget kalau harga spices Indonesia mahal, 4 biji kemiri aja harganya $10, hahaha.

    1. Ga tau euy ga nanya 😜🤪 Tapi bidetnya portable jd tinggal pasang copot, nyambung ke selang air di blkg gt, jd ga perlu aneh2 / bor2 di dinding.

      Samaaa! Seneng bgt kl waktunya belanja hihi.
      Buset mahal bgtt hahaha 🤣 udAh deh, hidup tanpa rempah2 Indo

  4. Kalau di AUS dining out lebih mahal dibanding dengan di Indonesia ya. Di Indonesia makan diluar itu murah banget, makanya aku juga jarang2 makan diluar. Kalau pun makan di luar jarang2 banget yang fine dining or posh gitu, bisa bangkruuut😝😝
    Aku suka resep bikin mie nya Sha, blom dicobain tapi akan karna aku suka makan mie. Thanks for sharing and looking forward to another recipe and stories😍

    1. Hahaha iya ya kak, berasa bgt mahalnya. Di Indo 20rb udah uenak bangetttts, jadi males masak kan 😝
      Hihi kmrn mie nya aku coba lagi giling lbh tipis (yg biasanya aku bikin agak tebel gitu jd chewy), eh jadi lembek, hiks. Bsk2 coba lagi ahhh.

  5. berawal dari iseng karna gaada kerjaan di kantor dan jadi ketagihan bacain blog ini. I’m so excited when I’m reading your blog, jadi pengen punya pengalaman macem kak sharon hihi.. ditunggu cerita2 selanjutnya ya kak.

    1. Yay baiklah!! Sering sih sbnrnya masak, tp kadang males foto atau males ukur takarannya, jadi pas mau tulis resep : eakkk bingung hahaha. Harus lebih rajin nih 😛

      Dari Flatmates.com! 🙂
      Ga kok, yang WHV cuma 1 orang Malay. 1 lagi student, 1 lagi udah PR kerja sebagai nurse.

  6. Ah gak kebayang enaknya terbang naik nonekonomi ke TZ/NZ duhaduh aku udah mupeng baca artikel ini apalagi kak sharon cerita pengalaman ke NZ suatu saat nanti xD myGOD

    1. Aduh aku juga pingin cobainnnn.
      Super penasaran sih stlh sering liat VLOG / IG Story org naik business class hahaha, pewe banget gitu yak bisa sambil maskeran segala ga diliatin orang sebelah hahahahah.

  7. Sharon kirim tas nya ke Tasmania pakai jasa apa? bagi info donk…
    aku juga lagi mau kirim barang dr bali ke melbourne, tp belum nemu ekspedisi yg pas 😷

  8. Yuk nabung buat naik non-economy ke New Zealand tahun depan. Udah bisa pesen di Traveloka sih asik, sekalian ngumpulin poin.

  9. yang paling membahagiakan di sana memang tempat tinggalnya, ya, buset itu enak banget rumah punya jendela besar menghadap pemandangan keceee. kalau gue mungkin sepanjang hari cuci piring karena view-nya bagus.

    so happy to see your life in Tassieeee!! waiting for more stories to come. :*

  10. Duhhh di Tasmania hidup selow banget ya.. kusuka deh yang seperti itu. Jadi pengen pindah. #Ehh..
    Suka dengan pola hidup yang minimalisir sampah plastik itu ya. Di Indonesia saya masih harus ngotot bilang “Gak usah diplastikin, mbak” demi ngurangin sampah plastik euy.

  11. Hello ce. Aku udah byk banget ketinggalan d blog cc. Udah lama ga baca hehehe
    Btw, your life is my dream life ce. Aku bener2 pengen banget punya kehidupan kayak cc. Pasti sneng banget kan rasanya. Aa~ i will try it someday really.
    Keep writing ce. I always enjoy your blog. Thank you for the inspiration☺

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s