tips untuk menjadi freelancer self employed

Hidup Sebagai Self-Employed (Sharon) & Business Owner (Fred)

Kali ini aku mau cerita ah tentang kehidupan ku sebagai self-employed sejak resign tahun 2016 yang lalu. (Thanks udah kasih ide untuk nulis ini, @lidya_tarigan!!!!)

Pertama2 kita samain persepsi dulu yah! Self-Employed itu berbeda dengan Business Owner. Kalo Business Owner (pemilik bisnis) itu biasanya punya karyawan atau bisa juga meng-hire contractors untuk bantu menjalankan bisnis mereka. Fred itu termasuk golongan small business owner menurutku. Karena dia pemilik bisnis, dan punya beberapa orang yang bantu menjalankan bisnisnya.

Sedangkan Self-Employed itu orang yang kerja sendiri. Bisa jadi mereka kerja sebagai freelancer & punya client. Posisinya sejajar dengan client : client butuh si self-employed ini, si self-employed juga butuh client. Berbeda dengan employee – employer di mana employee bergantung penuh ke employer dan kerja berdasarkan arahan dari employer. Kalau self-employed, walaupun punya client, dia bebas menuangkan ide2nya supaya tujuan yang diinginkan si client ini tercapai. Jadi, self-employed ini bekerja sendiri menggunakan skill yang dimilikinya. CMIIW ya!

Contoh gampang nih. Pemilik salon itu business owner. Makeup artist yang kerja di suatu salon itu employee karena digaji oleh salon itu. Sedangkan makeup artist yang ga kerja di salon manapun (tapi kerja sendiri, cari client sendiri) itu self-employed. Udah lebih jelas kan ya? 🙂

Oke, lanjut ya…

⁘ ⁘ ⁘

PERBEDAAN TERBESAR AKU (SEBAGAI SELF-EMPLOYED)
DAN FRED (SEBAGAI BUSINESS OWNER)

  • Kalau aku, suka untuk kerja sendiri. Aku juga lebih fokus untuk kerja sendiri karena aku tau aku mau ngapain selanjutnya, dan apa aja yang aku butuhkan. Walaupun planning jangka panjang, biasanya plan aku jelas searah aja. Aku juga ga bisa menjalankan perintah orang lain, karena aku selalu punya ide sendiri. Selalu pingin belok dari perintah orang lain. Ga bisa ngajarin / kerja bareng orang lain juga, karena aku selalu punya certain standard yang kalo kerjaannya dikasih ke orang lain, aku kayak suka / ga puas gitu loh. Selalu insecure kalo ngasih kerjaan ke orang lain. Dan ga nyaman aja kalau harus berkomunikasi sama orang lain terus. Jadi aku prefer untuk kerja sendiri.
  • Kalau Fred, dia suka planning dan mikirin banyak hal. Pikiran dia itu bercabang. Dia ga fokus kalau harus melakukan satu hal saja. Makanya dia butuh bantuan orang lain untuk mengerjakan sesuatu. Kelebihannya, kalau ambil keputusan, dia bisa lihat dari berbagai sisi. Tapi as an executor? ADUH, lambatnya bukan main. Macem orang ling lung gitu loh kalo kerja, soalnya pikirannya bercabang. Makanya dia cocok untuk menjadi the mind behind the business. Apakah Fred cocok menjadi employee? Certainly no. Karena ya itu, dia punya banyak plan & ga fokus untuk kerjain satu hal saja. That’s why he is now agan Tokopedia wk wk wk.

Karena karakter kami berdua inilah, kami merasa kami ga cocok untuk menjadi employee. Makanya beberapa tahun lalu resign sebelum menikah.

Baca juga : I Quit My Job, and Now What?

Terus rintis apa yang kami lakukan sekarang. Setelah itu, karena kerjaan kami bisa dilakukan dari mana aja, kami daftar Work & Holiday Visa Australia supaya bisa jalan-jalan sambil kerja casual di Australia selama 1 tahun. Yang bikin aku deg2an sekarang, bisa ga yahhh aku hidup di Australia dengan kerjaan seperti sekarang? Atau aku perlu kerja casual juga disana untuk nambah-nambah $$$?

⁘ ⁘ ⁘

PRO & CONS SEBAGAI SELF-EMPLOYED

PRO

  • Independence : kita lebih bebas mau ngatur kerjaan, ngatur jadwal,  kapan mau kerja, kapan mau libur. Ga terikat ke satu boss tertentu karena emang ga ada boss.
  • Bisa kerja dari mana aja. Walau aku mostly kerja dari rumah, tapi kalau lagi traveling tetap bisa kerja.
  • Flexible schedule.
  • and you name it

CONS

  • Kalau ga kerja, ga dapat duit. Ga ada paid leave atau cuti atau ijin sakit. Libur nasional, Sabtu, Minggu? Ga ngaruh 🙂 Everyday is the same.
  • Harus bisa atur keuangan sendiri, termasuk menabung & tagih invoice.
  • UMR ga berlaku karena minimun wage seorang self-employed itu 0 rupiah! 🙂 So we gotta work our ass off.

⁘ ⁘ ⁘

“AKU JUGA PINGIN MENJADI SELF-EMPLOYED, TAPI BINGUNG MAU NGAPAIN”

Itu artinya kamu belum siap. Kalau bahkan kamu ga tau mau ngapain, gimana mau resign coba? Nanti luntang lantung malah bakal lebih stress lagi.

Kalau kamu belum tau kamu mau ngapain tapi udah ga betah di kantor yang sekarang, mungkin aja sebenarnya yang kamu butuhkan itu kerjaan baru, kantor baru, suasana baru 🙂 Karena ga semua orang cocok jadi self-employed. Ada orang yang ga disiplin kalau harus kerja sendiri, kurang bisa mengatur jadwal sendiri, atau ya simply ga cocok aja karena merasa ga ada arahan.

Menurut aku, kamu siap & cocok untuk menjadi self-employed kalau :

  • You have passion for what you do & you know what you’re doing. And you know how to “translate” that passion into something valuable that people would actually buy / pay. Jadi begitu resign, kamu ga bingung mau ngapain. Dan kalau kamu tau what you are doing, kamu selalu bisa ignore komentar orang seperti “Aduh ngapain sih kamu ngelakuin ini? Udah enak2 lho kemarin gajinya gede.”. Nope, you know exactly what you’re doing, jadi komentar2 seperti itu ga bakal bikin kamu down.

Baca juga : How I Found My Passion

  • You are able to decide on things. Karena ga ada orang lain yang bakal merintah / kasih instruksi. Kamu yang harus mikirin semuanya sendiri.

 

  • You prefer to work alone. Ini bukan berarti orang2 yang self-employed itu ga suka bersosialisasi ya. Tapi kalau soal kerjaan, mereka lebih nyaman aja kalau kerja sendiri tanpa team mates. That’s me! * lambai-lambai ke kamera *

 

  • You are able to separate work & private life. Ini yang agak susah, karena self-employed ngatur jadwal kerjanya sendiri. Sekarang aja Fred sering tuh masih ngecek2 online shop nya sampai malam. Kadang kalau lagi lunch, tetep balas-balasin pertanyaan customer.

Baca juga : Travel Blogger’s Life

Baca juga :
Pengalaman 5 Tahun Menjadi Food & Travel Blogger

⁘ ⁘ ⁘

TIPS TENTANG KEUANGAN

Memang hal yang paling bikin stress itu mengatur keuangan kita sendiri. Karena pendapatan aja ga tentu. Kadang dapet sekian, kadang sekian. Kadang kalau ga ngapa-ngapain, ga dapet apa2. Apes deh. Jadi pinter2 ngatur keuangan itu penting banget biar semua kebutuhan kita tetap terpenuhi.

1 – We need multiple source of income

Sumber penghasilan utama aku itu dari nulis blog & juga Instagram dengan cara partnership dengan beberapa brand & aku akan bikin content tentang brand tersebut. Tapi kalau aku ga ada client? It means no money for me.

Jadi aku lagi berusaha gimana caranya untuk punya sumber pendapatan lain. Salah satu yang aku lakukan sekarang jualan online nebeng di onlineshop nya Fred (tapi masih kecil-kecilan, doakan aja semoga makin lancar ya dan jualan tas rotan kecil2an di Instagram). Aku masih coba cari-cari yang lain, mungkin bisa bikin workshop tentang blogging, atau online class. Masih mikir sih 🙂

Kalau kalian tertarik dengan hal ini, nonton deh video Gillian Perkins. She talked about how she makes money from 10 different source of income. It might inspires you like how it inspired me!

2 – Buy only things that are absolutely necessary ONLINE

Banyak pasti yang udah ngomongin tentang ini. Jangan boros, beli aja barang2 yang diperlukan. Tapi ngelakuinnya ga gampang loh ternyata. Kadang aku masih suka impulsif beli sesuatu karena “lucu”. Terutama baju, aduh aduh.

Cara aku untuk nge-rem pendapatan? Belanja online. Karena kalau beli online itu aku masih punya perasaan : “Ah online ini, seminggu hari lagi beli juga masih ada kok barangnya.” Beda dengan kalau kita jalan ke toko, pasti ada perasaan : “udah jauh-jauh sampe sini, kalo ga beli ga mungkin besok balik lagi ke sini.”

Jadi kalau aku pingin beli sesuatu online, aku selalu baca review dulu. Cari juga brand alternatifnya. Misal : ada produk lokal serupa ga ya? Cari dupe nya. Kalau ada versi lokal dan jauh lebih murah, kenapa ga coba yang lokal aja?

Terus kalo beli online, kita bisa punya beberapa hari untuk mikir “Perlu ga ya beli ini?”. Banyak bangetttt barang yang aku ga jadi beli karena aku pikir berhari2. Banyak banget barang yang kalau udah lewat 3 hari dari hari impulsif itu, tiba2 jadi berasa ga penting.

Ahhh online shopping saves my life!

3 – Try FREEGAN

Aku pernah baca tentang FREEGAN.

free·gan
/ˈfrēɡən/
a person who rejects consumerism and seeks to help the environment by reducing waste, especially by retrieving and using discarded food and other goods.

Dan aku juga coba nerapin yang sama tapi ga ekstrim. Misal : tantenya Fred (yang tinggal sebelahan & sharing halaman blkg) masak sesuatu, dan masakannya banyak. Kita makan disana juga. Kalo ada barang yang kita perlu tapi ternyata orang lain punya & mau ngasih, ambil aja ga usa beli lagi.

Kalau kita beli buku, setelah selesai baca, coba cari orang lain yang berminat untuk baca buku kita. Supaya orang lain juga ga perlu ngeluarin duit untuk beli buku itu. Begitu juga sebaliknya. Jangan sungkan untuk pinjem buku (atau barang2 lain) kalau kita cuma perlu pake untuk sementara.

4 – Keluar dari lingkaran setan

Apa tuh lingkaran setan?

Bridal shower lah. Baby shower lah. Arisan lah. Atau shower shower yang lain.

Bagi aku dan Fred, itu tuh ga penting. Kalau memang kita niat menjaga hubungan dengan orang lain, bisa kok sekali-sekali pergi makan / ngopi bareng sambil ngobrol. Dan biasanya kami kalo ketemu orang itu cuma max ber-4. Yah 5 boleh lah. Tapi kalo udah lebih rame, susah ngobrol nya. Paling cuma bisa haha hihi ga jelas doang kalo rame.

I’m not saying that I’m againts socializing. No. Tapi ya di-rem aja disesuaikan dengan budget masing-masing. And be wise with your own money. Jangan kemakan gengsi karena semua orang upload foto shower-shower-an di Instagram dengan dekorasi yang ciamik, kamu juga jadi pingin. Pikirin dulu ini emang perlu yah? Kalau budget itu shower itu dialokasikan untuk yang lain, kira-kira bakal lebih berguna ga ya?

Ditabung untuk…. traveling mungkin? 🙂

⁘ ⁘ ⁘

Waduh tulisanku panjang yah! Semoga ga bosen dan puyeng bacanya. Dan semoga tulisan ini berguna.

Satu hal lagi, dengan segala flexibility-nya, bukan berarti self-employed itu lebih baik daripada employee. Nggak. Ini lebih ke cocok-cocokan masing-masing individu aja. Ada orang yang lebih cocok untuk jadi employee, ada yang lebih cocok kerja sendiri. Jadi jangan punya tekanan “aku masih kerja sama orang nih” ya! Sama sekali ga ada salahnya kerja sama orang, lohhh. Menurut aku ini bener2 cuma masalah cocok2an, gaya hidup, dan preferensi aja.
So, no pressure.

⁘ ⁘ ⁘

Selanjutnya aku mau tulis cerita tentang gimana awalnya aku bisa berubah dari employee menjadi self-employed. Pertimbangan apa aja yang aku pikirkan, dan langkah apa aja yang aku ambil sambil menjadi seperti sekarang ini. Kalau langkah untuk ke depan, aku juga masih bingung hahaha. Tertarik ga dengna topik ini?
Stay tuned ya!

Kalau temen-temen punya insight & tips lain untuk para self-employed, boleh banget loh di share di comment box di bawah ini!
Let’s support each other!!! 

 

Love,

sharonloh

Iklan

45 pemikiran pada “Hidup Sebagai Self-Employed (Sharon) & Business Owner (Fred)

  1. Sejujurnya aku baru aja kerja kantoran sebulan ini. Di sini gajinya gede (perbandingan dengan UMR daerah setempat). Tapi aku gak betah.
    Sayangnya aku juga belum berani menghidupi diri sendiri. Jadi mungkin jawabannya adalah pindah kantor. Thanks Ci Sharon atas sharingnya.

  2. Sharonn, aku pingin banget bisa jadi self-employed kayak kamu gitu, karena aku terus2an ngerjain kerjaan yg ga terlalu aku sukaa. Tapi, mentalku belom seberani kamu hahahaha.

  3. This is so true!! Self-Employed 2014-present. Ngerjain desain interior, sampingan jual baju renang ❤ semangat terus dear!!

  4. Tajem boooooo: “lingkaran setan. Bridal shower lah. Baby shower lah. Arisan lah. Atau shower shower yang lain”.

    Kalo banyak ikut yang model kayak gini emang budget tersendiri tuh. Item printilannya berderet. Tidak hanya sekedar bayar si uang arisan tiap bulan. Ada pengikut tetapnya seperti biaya makan, trus yg demen eksis wow ke salon dulu. Atau pas ketemuan kudu modal baju seragam n dll.

    Niat doang gak cukup. Gak akan keluar dr “lingkaran setan”. Kudu ada trigger yg lebih.

    Still trying to be self employed…doakeeeeeuuunnn hehehe

    1. Wakakakakakaa iya kan, soalnya bridal shower bukan cuma sekali tuh. Bergilir sesuai jumlah anggota shower nya. Tapi yah itu preferensi masing2 siiih ya kak. Kalo emg ada budget nya yowes ndak papa, tapi kalo harus maksa untuk ikut shower2an padahal hidupnya berhemat banget, kasian jadinya.

      Amiiin good luck kak!

  5. Selalu deh kalo ada update dari Kak Sharonn, HARUS GERCEP BACA! Bikin betaaaah tulisannya dan nggak kerasa kalo panjang.

    Anyway, aku juga self-employed by condition, Kak. Awalnya pernah kerja sama orang. Abis itu dipecat karena mantan bos tutup usaha. Lalu mencoba bangkit kembali dengan freelance. Masih beraaaaaat banget sampe sekarang. Tapi tetep dijalanin karena jalan rejekinya ini dan fleksibilitas waktu itu surgawi banget! Jadi bisa ikut event-event blogger, even pas weekday HAHAHA.

    I’ll bookmark this for a reminder. Thanks for sharing Kaaak!

    1. Waaah terharuuuu, makasih Hanifa! ❤

      Wah! Ini judulnya dipecat membawa berkah. Jadi kamu "terpaksa" cari jalan lain. Semoga kerjaan freelance nya makin lancaaaar, dan semua rencana mu terkabul yahhh!

  6. Aku banting stir dari kerjaan accounting ke wedding organizer ( keluar dari comfort zone ), masih under a company jadi masih employee.. Sampe awal 2013, mutusin resign, terus kerja serabutan, dan self employed yang akhirnya masih di bidang wedding organizer, sampai mid of 2017, pindah ke NZ. Buat aku waktu self employed, yang kepikiran, stress gak punya pendapatan tetap haha.. Well walau stress, tapi aku enjoy.. cut all model
    ” shower2an ” itu. Ngafe or Makan di resto hanya dalam rangka meeting aja.. Survive sih, yang penting niat dan usaha, pasti dikasih jalan terbaik..

    1. Ueedannnn, Inly! Hebat banget kamu.

      Hahaha iya stress nya krn ga tentu penghasilannya yah. Tapi rela sih demi bisa enjoy life begini 😀 😀

      Yay good luck for both of us yah!

      1. Thanks, Sharon. Siapapun yang berani keluar dari comfort zone dan bisa survive, menurut aku, itu sudah one step closer to their dream..

        yeay.. aku ikut gak sabaran kamu berangkat WHV #apaancoba haha

  7. Saya juga baru mulai self-employed baru2 ini, setelah 1.5 thn resign dan totally enggak ngapa2in. Menemukan passion dulu sebelum memutuskan untuk mau ngapain tuh emang penting banget ya mba. Kalau enggak nasibnya kyk saya yg trial n error🙈

  8. So inspiring. Kelihatan banget mbanya tahu tujuan hidupnya. Kalau saya sih manut aja sama ortu tapi ujung2nya kerasa mentok. Jalan tengahnya sambil jadi karyawan, jadi self employee (blogger) enak rasanya bisa berkreasi dan mengeksekusi ide-ide di dalam kepala yang nggak bisa dituangkan di kantor. I choose to follow ur blog. Salam kenal, Enny dari Jambi (:

    1. Hai kak Enny, salam kenal! Aku juga dari Jambi loh! 😀

      Ga juga sih sebenarnya, sampe skrg juga masih bingung mau ngapain sbnrnya, tujuannya apa hahaha. Tapi ya cuma berusaha ambil keputusan ikutan kata hati aja. Ga pernah dengerin kata orang 😛 Apakah aku durhaka? Huhuhuhuh

  9. (((((shower-shower-an)))))) hahahahaa ngakak. Tapi emang bener tuh shower2an menguras uang, untung banget sekarang gw ga punya lingkar sosial yang aktif2 amat. Jadi ga pernah diundang kawinan, shower2an, maybe I’m not as popular as I used to be? Maybe so, tapi malah gw merasa beruntung banget!

  10. Saya memutuskan menjadi self employee setelah melahirkan anak kedua juli tahun kemarin. Keinginan resign dan menjadi self employee sebenernya sdh lama banget. Saya pengin fokus nulis karena sulit bagi waktu antara kerja dan ngelarin proyek buku2.
    Eh,pas resign, kontrak suami ga diperpanjang di kantornya. Akhirnya babak baru kehidupan finansial tanpa penghasilan rutin dimulai. Rasanya kayak naik roller coaster. Luar biasa.
    Karena ternyata nulis sambil ngurus bayi itu sesuatu banget. Banyak target buku ga bisa dicapai seperti waktu belum ada bayi. Alhasil, target penghasilan pun meleset.
    Anyway, saya tetap menganggap ini adalah proses yg harus dijalani. Saya masih harus berusaha keras untuk disiplin membagi waktu. Tetep percaya bersama kesulitan ada kemudahan. Kuncinya adalah kesungguhan.
    Makasih dikasih ruang utk berbagi. Salam kenal 😊

  11. Mba, aku juga mikir buku-buku semakin lama semakin menumpuk. Beberapa yang jarang kebaca sudah aku berikan kepada orang lain. Baju, dsb. Dengan begitu rumah jadi lebih longgar. Sayangnya, masalah pinjam meminjam ini kadang orang masih terbentur gengsi. Lainnya, abis pinjam nggak kembali. Padahal enakan ya kalau sesama tetangga, teman gitu, nggak keluar biaya karena pakainya cuma sementara.

    Nice sharing!

  12. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

    Pingin uyel2in kak Sharon hue 😦

    Now I found another term of me xD FREEGAN!
    /sosoan sik wkwkw/

    Ya aku sih belum ada penghasilan tetap perbulan dengan nominal tetap juga. Adalah, meski ga banyak. Dan sebenarnya bisa gituloh manjain diri sendiri ‘lebih dikit’ drpd teman lain.

    Tapiiii don’t know whay ya, macam ada tembok dan rantai besar banget yang bikin aku selalu berhari2 kalo mau beli sesuatu diluar hal primer. Aku selalu pikir, jangan masalah enak hati, tapi juga rasional, sebutuh apa sama sesuatu. Da gitu apa ma aku.

    This writing such a big inspiration for me 😦
    Aku jadi terbuka lagi gituloh, what I wanna be in the future. I wanna do something that I like, something I’m passionate in it. Bukan berarti egois trus mau ena ena aja hidup. Maksudnya, ya menghasilkan uang dan kreativitas, tapi tetap bahagia aku kerjain meski capek!

    SALAM KENAL KAK SHAROOON ❤ ❤ ❤ ❤

    /aduh maaf ya dapat kenalan alay wkwkw/

  13. Kak, makasih banyak artikelnya menginspirasi sekali. Aku juga lagi menjalani dunia self employed. Kalau ada rekomendasi komunitas blogger, saya mau dong ikutan. Bisa hubungi ke 089673355735

  14. Aku sudah 2 tahun ternyata menjalani hidup sebagai freelancer and I survived. Hahahaha… Tapi sesekali rindu juga sih kerja kantoran hahahaha. Mungkin lebih tepatnya rindu rutinitas lama. And you know what I did? Datang main ke kantor lama dan duduk numpang kerja bareng sama co-workers lama dan senang, puas. Hahahahaha….

    Tapi aku jg harus berpikir keras nih ke depannya mau ngapain hahahaha…. Harus kerja apa lagi ya…

    1. Satya idolaquuuu!
      Wah hahahaha pasti temen2 kantor heboh ya kamu dtg trs kerja bareng.

      Sama nih, galauuu berat, aku pingin jadi encik2 olshop aja deh tapi aku takut ngestock tkt ga laku, hahahaha

  15. Sharon! It’s inspiring, especially the “showers” part. LOL. Kena banget. Ga pernah berakhir itu mah. Sometimes what we need is the ‘real friendship’. Kayak misalnya, kalau nggak ikut-ikutan showers, apakah mereka masih mau temenan? Atau mereka cuma mau temenan just for the sake of that lotta of showers?

    Keep posting!

    Cheers,
    Fasa
    casafasa.com

  16. Shar!

    HAHAHAHAHA

    Entah kenapa baca perihal “Tips Keuangan” pas banget sama apa yang sedang kujalani bersama Mz Faiz sekarang ❤ cucok banget-lah. Kami juga menanamkan hidup "sederhana" (kalo bahasa kami mah), cuma kadang aku yg suka lepas rem kalo liat baju murah aaaaaaaaaaa habis itu khilaf ga makan seminggu *lebay

    Sebenernya mau duit banyak, duit dikit, kami beranggapan lifestyle itu ga perlu berubah. Jadi tips keuangan ini perlu diilhami seumur hidup mau gimanapun kondisi hidupnya. Setujuuu banget deh pokoknya sama tips2 kamu!!!

    Semoga aja makin banyak orang yg sadar ttg tips2 ini, jadi ga perlu ngutang ke sana ke mari demi tuntutan hidup sosialita :") although that's their own choices sih, kok aku yg jadi sewot.

    Eniwei, ngomong2 self employed, aku pun lagi maju mundur nih shar. Terutama bagian "nutup kuping" dari omongan orang2nya dan keyakinan diri sendiri.

    Pas pengen chat kamu krn butuh sudut pandang seorang praktisi self-employed profesional *ciyeh*, aku malah baca postinganmu ini, jadi agak tercerahkan. Mamaci ya Sharon, kamu membantuku meski tidak secara langsung ❤

    Salam buat Fred ya!

  17. ehmmm… aku suka artikelnya… mengingatkanku pada diskusi bersama suami, kalau kita tuh mesti punya pendapatan yang sifatnya harian, mingguan dan bulanan, dan bahkan pendapatan yang sifatnya babonnya gitu lah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s