sharon loh fredric sanjaya
Other

Life After Marriage

Aku tau, pasti banyak yang penasaran sebenernya aku dan Fred ini kerjaannya ngapain sih? Kok perasaan honeymoon mulu. Kapan mau punya anak? Honeymoon Jilid Satu, Jilid Dua, terus mau honeymoon jilid tiga? 

“Banyak duit ya?”

Hihihi. Kalo kami emang banyak duit seperti yang kalian bayangkan, you will never see us again! 😛

travel blogger indonesia

At Macdonnell Ranges National Park. Taken by @pergidulu

Sebenarnya dari sebelum kami nikah, kami juga selalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan kalau bisa. Kebetulan kami berdua memang suka jalan-jalan ke tempat baru, suka cobain hal baru, dan kami juga punya pandangan yang sama terhadap hidup ini (cie elah). Nggak kebetulan sih sebenarnya, karena kalo ga cocok gitu yah kami ga bakal betah jadi partner hidup.

honeymoon sharon loh fredric sanjaya

Us during our #HoneymoonJilidDua

Oke, aku ceritain bentar yah! 🙂

How We Met

2005 : SMP

Aku dan Fred kenal saat kami duduk di bangku kelas 1 SMP. Terus waktu 2 SMP, mulai pacaran. Itu semua terjadi sekitar tahun 2005. Kami pacaran diem-diem karena dulu pas SMP aku belum dibolehin pacaran. Peace✌️

2010 : Kuliah

2010 itu jaman awal masuk kuliah. Aku kuliah jurusan Teknik Informatika di Institut Teknologi Bandung sedangkan Fred jurusan Ilmu Komputer di Universitas Indonesia, Depok. Kami pun pacaran jarak jauh selama 4 tahun.

Sempet putus nyambung sih selama pacaran. Wajar lah ya, namanya juga lagi sama-sama menjalani kehidupan baru di kota baru, sama-sama lagi struggling dengan kuliah, sama-sama lagi punya banyak temen baru yang asik, dan sama-sama sedang mencari passion-nya.

fredric sanjaya sharon loh

2011 : Ciwidey, Bandung

sharon loh travel blogger indonesia

2013 : Bromo (Taken by Fred’s sis @cinddy_07)

indonesian travel blogger

2014 : Halong Bay (Taken by Fred’s sis @cinddy_07)

sharon loh

2016 : Hongkong Disney Land, where he proposed me. Hihi. (Taken by Fred’s cousin @lorentius_william)

2017 : We Said Yes!

Singkat cerita, karena kami berdua merasa cocok dan setelah beberapa tahun memperkaya diri, kami makin cocok. Jadi akhirnya February 2017 yang lalu, kami menikah, yay! It’s been a crazy 12 years journey but we’re longing for more.

fredric sanjaya

2017 : We said yes! (Taken by crazy sis @karenlohh)

Life After Marriage

And this is when it gets exciting. Life after marriage is awesome guys!

Aku suka bingung kalo tiap kali denger orang lain ngomong: “Kalo udah nikah ga bebas ya, ga bisa kayak dulu lagi.” Soalnya kalo aku, justru malah menjadi bisa lebih mengikuti apa yang dari dulu aku ingin lakukan. Karena aku sekarang punya partner yang selalu support aku and put no pressure on me. Ga pernah tuh Fred ngomong : “Tuh kan, dibilangin juga apa.”

That Starting Point

Aku inget, beberapa hari setelah nikah, Fred nanya ke aku, sebenarnya hal yang paling aku pingin itu apa? Achievement apa yang pingin aku raih dalam hidup ini?

Aku jawab, aku seneng kalau jalan-jalan ke tempat baru, mencoba hal baru. Aku literally bisa stress kalo di rumah terus, bisa cranky gitu deh.

Aku merasa kaya, setelah jalan-jalan. Dan aku suka menuangkan kecintaan aku terhadap traveling melalui foto dan tulisan. And that’s what I could imagine myself doing for the rest of my life!

honeymoon sharon loh

Taken by @pergidulu

Fred sendiri ga punya ambisi lain yang bertolak belakang dengan ambisi ku. Dia cuma pingin, kerjaannya bisa dikerjain secara remote dari manapun. Apapun kerjaannya ga masalah. *anak milenial detected*

Setelah masing-masing dari kami tau apa yang partner kami inginkan, kami jadi bisa cari cara supaya bisa menggapai mimpi kami berdua sambil berusaha cari kerjaan yang ga bertolak belakang dengan mimpi itu.

Gali mimpi dan potensi masing-masing.

This is soooo important you guysss. Biar ga ada alasan “Enakan sebelum nikah ya, lebih bebas”. Dari awal sebisa mungkin kita sama-sama cari tau, apa yah yang harus kita lakukan supaya impian dua2nya bisa tercapai? Karena kan sekarang ego yang diikuti bukan cuma ego diri sendiri aja, tapi ada dua ego yang berbeda. Jadi kita perlu cari jalan tengah biar kedua ego ini bisa terpenuhi! 😉 Sounds cliche, I know. But it works for us. 

And guess what, awal tahun depan kami mau mencoba hidup di Australia selama 1-2 tahun! Yayyy!

fredric sharon

Pekerjaan

Sekitar tahun 2014 -2016, kami sempet kerja sebagai software developer di kantor yang sama. Aku kerja selama kurang lebih 1 tahun, sedangkan Fred selama kurang lebih 2 tahun. Aku inget, Fred resign sekitar 9 bulan sebelum menikah.

Aneh?

Well, kalau dilihat dari orang-orang pada umumnya ya aneh. Kok mau nikah, malah dua-duanya jobless. Untungnya, kami berdua bukan tipe orang yang mikirin apa kata orang. Kalo udah dipikir dan dirasa benar, ya tetap kami lakukan.

Setelah kami resign, ada salah satu pertanyaan yang berbekas banget di aku.

“Kok berani ninggalin comfort zone?” 

Emang sih kalo dilihat dari luar, kami seperti udah di comfort zone. Tapi masalahnya, it’s not even comfortable at the beginning for me.

Kami ga enjoy tinggal di Jakarta, ngantor pula. Senin-Jumat di kantor, dan karena stress, weekend kami main ke mall hambur2in duit untuk hal yang ga penting. Cuma sekedar untuk makan dan nonton doang sih sebenarnya. Tapi seminggu kemudian, udah lupa tuh apa yang kita makan dan apa yang kita nonton. Ga berkesan sama sekali. Ga ada yang berbekas sampe : “ihhh iya ya minggu lalu kita ngelakuin itu”. Semuanya lewat aja tanpa kita sadari. Dan itu salah satu moment yang bikin kami berpikir untuk ganti kerjaan, ubah lifestyle, dan pindah dari Jakarta.

Jangan takut untuk memilih.

Setelah kami pindah, ada yang bilang kalo kami seharusnya lebih mau beradaptasi di Jakarta. Karena semua orang juga gitu dan mereka bisa survive. Tapi menurutku, semua orang punya pilihan. Dan kalo emang mereka milih untuk tinggal dan kerja di Jakarta, it’s fine kok! Nggak ada yang salah. Tapi karena kami punya pilihan lain, nggak ada alasan untuk kami bertahan di sana 🙂

Kami nggak mau mengorbankan 20 tahun masa muda kami supaya bisa menikmati 20 tahun masa tua. Kalau masa tua itu nggak ada gimana? Mending sebisa mungkin kita coba nikmati 40 tahun itu kan 😉

indonesian travel blogger

Taken by @sitdowndisco

“Tapi kan gaji nya lumayan? Sayang banget”

Menurut kami, gaji itu bukan hal yang terpenting.

Salah satu kalimat yang paling aku inget dari mantan bos adalah :

Be so good at something that people can’t ignore you.

He quoted it from a book and it’s a very powerful word for me, it affects me in so many ways. Ironically, kata-kata itu lah yang meyakinkan ku untuk berhenti kerja dan menekuni apa yang aku suka.

Dan bener aja. Setelah resign, aku coba-coba baking (I was inspired by @nanacakeboutique!) dan belajar secara otodidak dari Youtube dan blog orang. Usaha jualan custom cake ku di Jambi lumayan!

Aku bisa take order kapanpun aku mau, bisa libur kapanpun aku mau. Way better than working in an office from a very sempit cubicle. Dan bisnis cake ini bikin aku mikir, wow aku bisa ngelakuin apapun asal aku niat dan mau terus berlatih secara konsisten. I could be anything I want!

Tapi seperti yang sudah ditebak oleh orang2 terdekat, lama kelamaan aku suntuk karena aku harus di Jambi terus, hehehe.  (Oh my this is so me, gampang bosen bok!)

So I stopped taking orders and spend several months traveling, doing nothing. And guess what?

Aku jatuh cinta lagi dengan blogging!

Blog yang sempat terlantar selama 2 tahun karena aku kerja kantoran & bikin kue pun akhirnya aktif kembali. Aku mulai bisa earn money from my blog and Instagram. Walau masih sedikit, tapi lama-lama improve sedikit demi sedikit.

Sedangkan Fredric sekarang lagi menjalankan bisnis online RFID-nya, seperti yang dia mau, kerjaan yang bisa dikerjain dari manapun, ga terbatas oleh tempat dan waktu.

So in short, we are still financially unstable, but we’re on our way! Trust me! 😉 *meyakinkan diri sendiri*

sharon loh blogger indonesia

Lifestyle & Prioritas

Setelah sama-sama tau apa yang kami mau dan pekerjaan apa yang kami suka, kami pun mencari cara supaya bisa hidup dengan lifestyle yang aku inginkan (a.k.a bisa terus jalan-jalan sambil kerja remotely).

Beruntung, aku dibesarkan di keluarga yang berkecukupan dan nggak glamor. Jadi aku dari dulu ga tertarik dengan barang-barang branded. Apalagi perhiasan. Kalo hp atau lensa baru boleh lah 😛

Karena toh, prioritas hidup kami itu kenyamanan & kebebasan hidup, kebebasan dalam memilih.

fredric sanjaya

Sekarang, kami tinggal di rumah orangtua nya Fred. Ini juga penghematan sih karena kami ga perlu mikirin urusan rumah. Selain udah nyaman, orang tua Fred oke oke aja, malah seneng karena anaknya tinggal disini. Kami jadi bisa lebih bebas, kalau mau berangkat, tinggal berangkat aja ga perlu pusing mikirin rumah yang ditinggal. Win win!

Menurut aku, oke-oke aja sih ga punya rumah. Malah aku pingin pindah-pindah, 3 bulan di kota A, 3 bulan di kota B, dan seterusnya. Nggak tau deh ya nanti pas punya anak bisa gitu ga. Tapi so far, kami pingin sih besarin anak sambil keliling dunia – it’s one of their best way to learn!

travel blogger indonesia

At Katherine Gorge. Taken by @pergidulu

Banyak sih penghematan yang kami lakukan selain itu. Misalnya jarang ke cafe, bikin kopi sendiri instead of beli di coffee shop, jarang beli barang, nggak pre-wedding, banyak hal-hal kecil yang sebenarnya ga penting tapi habisin duit lumayan.

Nah, tapi sebagai gantinya kami jadi bisa jalan-jalan dalam periode yang agak lama – seperti traveling sebulan-sebulan gitu. Bulan depan Aku & Fred mau #HoneymoonJilidTiga ke Bali! Hihihi. Kami bakal sebulan juga di Bali.

Tips: di Bali ngekos aja (aku kebetulan dapet kos-kosan dari airBnB)! Bisa jauh lebih murah dibanding hotel untuk traveling jangka panjang. Di kos juga ada dapur, jadi lumayan bisa hemat sarapan & makan malam mungkin?

sharon loh blogger

Yang terpenting, jangan takut untuk cobain apa yang kamu pikirin. Jangan takut untuk mengutarakan mimpimu ke pasangan kamu. Karena kalo kamu nggak bilang, mana dia tau?

Dan kalo kamu nggak coba ngelakuin apa yang kamu udah pikirin berkali-kali, kamu bisa cepet gila, beneran deh.

That’s how I found my passion anyway, by trying so many things, even when a lot of people say no. I just don’t care about them. I care more about what I want. 

Don’t judge yourself and your partner. Don’t limit yourself and your partner.

Walau memang terkadang yang dilakuin itu ga sesuai ekspektasi. Tapi itu adalah salah satu proses untuk menuju ke yang benar. Kalau udah di judge dari awal, pasti kita bakal males untuk mencoba hal baru. Gerak gerik dan pemikiran kita jadi terbatas.

And remember, whatever happens, the two of you are in this together. Jadi instead of saling kesel karena partner kamu melakukan sesuatu yang ga sesuai dengan ekspektasimu kamu, help him/her to be a better human being.

You are in this together 🙂 

* * *

I hope this article helps! Komen dong kalo kalian merasa suka dengan artikel seperti ini. Dan kalo kalian punya ide topik selanjutnya yang harus aku tulis, let me know yah! :*

Cheers,

Sharon Loh

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s